Tampilkan postingan dengan label Pendekatan Psikografis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendekatan Psikografis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 November 2009

Pleasure Seekers

  • Pleasure seker tipikal pengemar hura-hura sejati, ciri-cirinya adalah gaya hidup yang mencari kesenangan pribadi, individualistis, tidak ambil pusing dengan urusan sekelilingnya , yang penting dirinya happy, apa yang terjadi dengan orang bukanlah urusan mereka.
  • Mereka adalah pengikut fanatik trend terbaru dimasyarakat jangan heran jika melihat mereka selalu berganti-ganti dandanan dan penampilan, karena mereka senantiasa berupaya tampil modis. Kelompok ini tidak mempunyai prinsip dasar yang kuat, cenderung ikut-ikutan
  • Sebagai orang yang tidak mempunyai prinsip dasar yang kuat, mereak juga enggan terikat rutinitas. Bagi mereka hidup itu harus penuh dengan warna khususnya warna-warna cerah, tak heran jika mereka umumnya enggan menghadapi perubahan besar yang mungkin akan menghulubalangkan kehidupan mereka. Bagi mereka hidup itu begitu ringan bagaikan air yang mengikuti alurnya.
  • Ciri-ciri kelompok ini memang mendekati kelompok attention seeker yang menempati urutan kedua 17% di Indonesia. Perbedaannya, pleasure seeker tidak ingin terlalu menonjol dan tampil beda serta kurang peduli pada gengsi.
  • dengan gaya hidup yang penuh hura-hura ini menurut logikanya, para pleasure seeker membutuhkan biaya yang cukup besar, dan dari karakteristiknya itu mudah diduga kelompok ini didominasi oleh para remaja (teenager) yang populer disebut ABG (anak baru gede) namun rupanya tidak demikian,mayotitas kelompok ini justru mereka yang berusi 30 tahun ke atas, dan berasal dari kelas sosial rendah.
  • Sebagai orang yang menyukai kemudahan, mereka tergolong akrab dengan teknologi tinggi, komputer, piranti audio visual, piringan laser dan telepon genggam bukan benda asing bagi mereka. Bahkan dibandingkan segmen-segmen lainnya, Pleasure seeker menempati urutan kedua dalam pemilikan peralatan audio visual, sedikit dibawah attention seekers. Dalam pemilikan telepon genggam mereka menempati urutan ketiga 13,14% hanya selisih sedikit dengan loner 13,93% dan achiever 13, 35%
  • Kepraktisan tak selamnya menjadikan pertimbangan mereka. Ambil contoh dalam hal kopi, meski nescafe dan indocafe lebih praktis diseduh dan mudah larut, toh mereka lebih memilih kopi Kapal api yang menurut mereka lebih wangi aromanya serta mempunyai rasa kopi asli.
  • Sebagai kelompok yang mengikuti trend, pleasure juga terbilang rajin mengikuti berita-berita utam, namun bila dibandingkan sumber beritanya rupanya mereka senag memirsa TV dan mendengarkan radio ketimbang membaca koran, majalah atau tabloid dibandingkan selurh segmen lainnya mereka memang paling banyak menghabiskan waktu luang dengan memirsa TV/video 13,14% sama dengan kelompok attention seekers.
  • Untuk mencari hiburan pleasure seekers lebih suka jalan-jalan ke shoping mall, ketimbang sekedar ke bioskop, pasalnya di mall yang kini biasanya juga ada bioskop mereka bukan hanya bisa nonton film, tapi juga sambil melihat-lihat (window shoping) ataungeceng (cuci mata).
  • Yang juga menarik ternyata pleasure seekers paling gemar menggunakan jamu tradisional dibandingkan segmen lainnya. Agaknya hal ini ada hubungannya dengan anggapan mereka bahwa jamu-jamuan akan membuat mereka tampil lebih prima.
  • dengan ciri-ciri khas seperti ini para produsen tentunya bisa merancang produk yang paling tepat untuk mereka. Pendekatan ke segmen ini haruslah menonjolkan unsur kesenangan (Fun) kemudahan, kenyamanan, santai, dan warna-warni yang ceria. Produk yang ditujukan ke segmen ini seyogyanya diletakan pada tempat-tempat yang mencolok dan mudah terlihat, misalnya display khusus di mall-mall dan pasar swalayan. Faktoe SES yang rendah harus menjadi pertimbangan produsen dalam menyusun strategi penentuan harga, misalnya jangan menentukan harga yang terlalu tinggi untuk membidik segmen ini. Keosekuensinya kulitas mungkin bisa dinomorduakan, apalagi mereka juga gemar berganti mode, keawetan produk mungkin tidak menjadi perhatian utama mereka.

Attention Seekers

  • ciri psikografis attention seekers merupakan tipe orang yang suka cari perhatian, cenderung impulsif kurang rasional dan mudah berubah.
  • Sebagai konpensasi atas kekurangpersayaan dirinya, kelompok in senag tampil beda dan cenderung lebih menyukai produk dengan merek prestisius. Attention seekers memang lebih cenderung mementingkan gengsi ketimbang isi, mudah dipengaruhi dan cenderung ikut-ikutan.
  • Attention seekers cenderung berani tampil (high profile) bahkan dikubu yang paling ekstrem. Sedangkan dari segi achievement, kelompok ini cenderung ikut-ikutan saja (folloer)
  • Segneb ini diwakili kelompok remaja ABG (ank baru gede) yang cenderung santai, cari kesenangan dan cari perhatian, senag tampil beda dan ikut-ikutan, tidak suka keteraturan dan masih impulsif.
  • attention seekers senang mengunjungi tempat-tempat keramaian seperti mall angkanya mencapai 13,49% paling tinggi dibandingkan dengan kelompok psikografis lainnya.
  • ATM merupakan simbol status kehidupan modern dan praktis, yang secara teoritis cocok bagi attention seekers, tapi pengguna ATM dari segmen ini hanya 10,69% sedikit tinggi dibanding pleasure seeker 10,40%. Bahkan penggunaan kartu kredit kelompok ini hanya 8,10% terendah dibanding kelompok psikografis lainnya.
  • Tingkat pendidi attention seekers tidak terlalu tinggi, mereka cenderung kurang mengikuti perkembangan dunia. Hal ini terbukti, dari mereka hanya 12,52% yang mengikuti headline surat kabar atau cover story majalah. Paling rendah setelah pusher 11,20%, mereka yang membaca berita ekonomi juga cuma 11,73% angka ini masih lebih tinggi sibanding pleasure seeker dan anxious, masing-masing 11,03. Adapun dalam hal mengikuti perkembangan politik attention seekers menduduki posisi paling buncit yakni 9,03%
  • Mereka umunya hoby mendengarkan radio sebagai hiburan yang murah, radio Prambors misalnya yang banyak mengumandangkan lagu-lagu baru cukup mereka gemari 16,33%, Kefanatikan mereka terhadap radio anak muda itu hanya bisa tersaingi oleh kelompok pushers 18,37%, tetapi bukan berarti statiun yang lebih serius dan ditujukan untuk para profesional muda yakni radio trijaya tidak mereka ikuti, Attention seekers menempati urutan kedua 13,66% setelah socialite.
  • Ketika disodorkan kelompok ini tiga pilihan memirsa TV/Video, mendengarkan radio, atau membaca koran/majalah, maka pilihan pertama attention seekers memirsa TV/Video 13,41% pilihan kedua mendengrkan radio 11,31% dan ketiga membaca koran/majalah 10,23%. Pilihan yang disebut terakhir ini bahkan paling rendah dibanding kelompok psikografis lainnya.
  • Dengan pelbagai sifat dan karakter tersebuit maka pemasar yang akan membidik segmen ini perlu memberikan kesan prestisius terhadap produk=produk yang mereka jual, anatara lain dengan menggunakan simbol kehidupan upper class.
  • Karena motif psikografis segmen ini cenderung senang diperhatikan, mencari kesenagan dan kemudahan, maka produsen sebaiknya memberikan kemudahan pelayanan dan kesenangan, baik dalam bentuk servis, cindera mata, maupun unsur iklan dan pemasaran lainnya. Unsur keunikan perlu pula ditekankan, sehingga produk terkesan beda dari yang sudah ada.
  • Namun perlu diperhatikan juga attention seekers cenderung mudah dipengaruhi dan ikut-ikutan. Pendekatan emosional sangat dianjurkan, baik yang menyangkut produknya, maupun kemasannya. Hanya saja, pemasar yang memiliki konsumen seperti ini perlu rajin mengadakan perbahan atau berinovasi, menjaga citra merek dan berpromosi agar konsumen tetap setia.

Pushers

- Pushers merupakan kelompok masyarakat yang ditandai karakter yang cenderung mendominasi tanpa arah yang jelas, limgkup pergaulan luas, tak ingin jadi pusat perhatian, tidak mudah menerima inovasi, agak kaku dan cenderung suka mengatur.

- Segmen ini cenderung berasal dari mereka yang sudah berusia agak tua, jumlahnya pun tak banyak. Meski demikian, melihat karakter yang dimilikinya segmen masyarakat ini tidak bias diabaikan, dalam pemasaran misalnya mereka bisa dijadikan media bagi pemsar.

- Memang untuk produk-produk masal jangan harap segmen ini bakal mengkomsumsinya dalam jumlah banyak.

- Pengaruhnya yang sangat kuat pada segmen masyarakat lainnya, membuat pusher penting. Artinya bila mereka sudah dipegang sebagai sasaran pemasaran, segmen ini bisa digunakan sebagai penyambung ke konsumen yang lebih banyak. Apalagi dengan kecenderungannya yang ingin mendominasi. Hanya saja segmen ini agak sulit untuk didekati. Karakternya yang cenderung tidak mudah menerima pembaruan, agaknya perlu waktu untuk mengubah pikirannya.

- Segmen ini termasuk tipe yang senang membaca koran, majalah ataupun tabloid dilahapnya. Medianya juga beragam : kompas, Poskota, Jawa Pos dan Media Indonesia. Berita utama merupakan rubrik yang paling disukai segmen ini 11,2%. Pilihan rubrik ini sangat berpengaruh terhadap media yang dipilih, segmen ini juga tidak menyukai berita-berita ekonomi.

- Hampir 18,4% segmen ini memilih membaca Pos Kota, Ketimbang Kompas 17%. Pilihan terhadap Pos Kota diduga dipengaruhi oleh sikap konservatifnya. Buktinya, Media Indonesia yang beritanya banyak dinilai kalang tertentu mengebu-gebu, pusher jusstru tidak begitu meminatinya 0,40%.

- Untuk majalah ekonomi bisnis. Pushers lebih suka membaca majalah eksekutif ketimbang warta ekonomi atupun Swq. Gambaran ini bertolak belakang dengan pilihan majalah oleh segmen affluent, yang antara lain banyak dijumpai dikalangan pria muda menegah atas dan ditandai dengan kebiasaan bekerja keras dan berani ambil resiko.

- Produk yang dibeli berdasarkan informasi iklan untuk segmen ini menunjukkan angka paling kecil. Terhadap barang-barang elektronik misalnya hanya 8,41%.

- Karakter konservatifnya juga diperkuat dengan pilihannya terhadap media elektronik. Pilihan pushers lebih besar ke statiun TVRI 12,50% dan TPI 14,88%, ini memang berbeda dengan segmen lainnya yang lebih menyukai SCTV dan RCTI.

- Kebiasaan Pushers memanfaatkan waktu luang sehari-hari, kelompok ini kelihatannya tidak mempunyai kebiasaan yang sangat spesifik. Artinya apapun yang mereka suka mereka akan lakukan, misalnya memirsa TV/Video, mendengarkan musik, membaca koran/majalah merupakan hal yang biasa dilakukan.

- Pemanfaatan waktu luang diakhir pekan , segmen ini lebih banyak melakukan kumpul-kumpul dengan teman. Angka mencapai 14,88% paling tinggi dibandingkan kumpul dengan keluarga ataupun kegiatan lainnya.

- Meskipun pushers lingkup pergaulannya luas, namun segmen ini nampaknya tidak menyukai pergi ke tempat-tempat ramai, dalam mengunjungi mall misalnya, pushers termasuk paling kecil dibandingkan lainnya yakni hanya 10,94%. sedangkan segmen lainnya di atas 12%. Segmen ini lebih menyukai perghi nontonbioskop yakni mencapai angka 13,14%, barangkali kebiasaannya yang tak ingin menjadi pusat perhatian.

- Karena segmen ini tidak suka tampil, produk-produk yang lebih mengutamakan fungsi mungkin akan lebih mengena dibanding dengan produk yang sekedar mode. Komunikasi pemasaran sebaiknya langsung ke manfaat produk, juga lebih menekankan pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai mendasr akan lebih tepat untuk sasaran pushers ini.

Socialite

- Socialite merupakan tipe orang yang suka santai, ingin kenikmatan, om-do (omong doang), suka berisolasi, mempengaruhi orang lain, cari perhatian, reaktif terhadap perubahan, cenderung impulsif, kelompok ini percaya dirinya sangat kuat, cenderung nekat tapi kurang rasional.

- 10,72% dari segmen ini suka berdiam bersama keluarga 15,18% kebanyakan lebih senang berkumpul dengan teman-teman., ini merupakan angka tertinggi dibanding dengan kelompok psikografis lainnya.

- Karena hobinya keluar rumah, makanan pilihan socialite tidak asal telan, tapi mereka lebih memilih tempat-tempat yang cocok untuk ngerumpi. Misalnya restoran ayam goreng 15,23%, fast foods 15,68% ini merupakan angka tertinggi di banding dengan kelompok psikografis lainnya.

- Selain mengunjungi restoran-restoran yang populer, kesenangan socialite pergi ke tempat-tempat hiburan, jalan-jalan ke mall ferkuensinya bias 3-4 kali dalam sebulan 16,17%. Untuk urusan nonton bioskop, socialite menduduki peringkat teratas 14,48%

- Karena kecenderungan menikmati kesenangan, maka hal-hal yang berkaitan dengan itu sangat melekat pada kehidupan socialite, kebiasaan sehari-hari mereka seperti mendengarkan radio, memirsa TV, baca tabloid dan majalah, menempati tempat teratas dibandingkan kelompok psikografis lainnya.

- Ciri socialite yang menonjol adsalah ambisinya yang besar tetapi kemampuannya kurang mencukupi karena cenderung impulsif, maka implikasi pemasaran yang cocok terhadap tipe konsumen ini menggunakan strategi yang matang misalnya, promosi dan dengan diskon besar-besaran.

- Kepraktisan, tetapi terutama gengsi, biasnya mereka sukai, itu pula yang menyebabkan socialite gemar menggunakan ATM dan kartu kredit, 18,42% atau tertinggi dibandingkan kelompok psikofrafis lainnya. Sedangkan kartu kredit 14,98% atau ketiga setelah affluent 16,19% dan achiever 15,18%.

Munculnya kelompok socialite yang kebanyak dari EBG merupakan fenomena baru gaya hidup masyarakat kota, beberapa indikator yang cukup mempengaruhi gaya hidup mereka antara lain adanya globalisasi informasi, mode, menjamurnya media massa khususnya TV dengan segala atribut gaya hidup yang ditampilkan. Selain itu peningkatan ekonomi dan pendapatan masyarakat kota yang diiringi membesarnya segmen menegah serta munculnya generasi muda hasil sukses orde baru membentuk gaya hidup tersendiri. Atributnyapun berbeda dengan genarasi sebelumnya sebutlah genarasi dekade 1970an. Menjamurnya mall, pasr swalayan, realestate, apartemen, fast food, kafe, TV, perangkat hiburan berteknologi laser, bioskop 21, klub sport, ATM, Kartu kredit, telepon genggam, notebook, mobil plus aksesiorisnya, serta menjamurnya merek prestisius merupakan atribut baru gaya hidup masa kini. Selain itu nilai-nilai baru dan kebiasaan konsumen yang abru memperkaya nuansa gaya hidup masyarakat kota saat ini

Anxious

- Anxious adalah segmen masyarakay dengan karakter cukup berambisi, tapi kurang percaya diri, agak peragu, butuh pendapat atau dukungan orang lain, cemas, suka varasi dan mudah dipengaruhi.

- Karakter yang lemah, cemas akan kemmpuannya, peragu dan butuh pengakuan orang lain membuat kelompok ini mudah dipengauhi. Kadang mereka memaksakan diri untuk memakai merek atau produk mahal, walau kemmpuan beli terbatas. Yang terakhir ini perlu mereka lakukan untuk menutupi kekurangannya dan menimbulkan rasa percaya diri.

- Contoh segmen ini, kaum muda lajang menegah atas dari pada EBG (Eksekutif Baru Gede). Kaum EBG umumnya relatif muda dan belum semapan para eksekutif atau para profesional muda. Mereka berambisi besar, tapi kemampuan agak kurang dan cenderung santai dan upaya yang kurang keras. Karena itulah dalam bisnis mislnya, para EBG ini untuk memaksakan ambisi dan keinginan mereka kadang menggunakan jalur cepat, seperti melalui koneksi atau mencari fasilitas kemudahan.

- Dalam pemanfaatan wktu luang di akhir pekan misalnya 46,20% kaum anxious lebih suka berkumpul dengan keluarga, aktivitas bisa dilakukan di dalam rumah atau diluar rumah. Diwaktu libur panjang kelompok anxious 39% lebih suka rekreasi ke luar kota, sedangkan 12,19% banyak menghabiskan waktu dengan membaca koran disamping memirsa TV?Video dan mendengarkan musik.

- Kelompok ini cnderung mencari sesuatu yang baru dan berbeda. Bisa jadi ini merupakan reaksi yang diperlihatkan mereka terhadap kehidupan yang penuh persaingan, serba cepat dan stre di pekerjaan, diluar itu mereka ingin memakai uang dan waktunya untuk suatu gaya hidup yang serba berbeda dan baru.

- Pengaturan anxious terhadap makanan yang ketat ternyata berpengaruh terhadap minuman yang biasa mereka komsumsi. Mereka biasanya tidak menyukai minuman mengandung gula, misalnya untuk menghilangkan dahaga sehabis olahrag mereka lebih suka minum air putih. Itupun tak memperlihatkan merek sehingga air kemasan VIT yang harganya relatif murah labih diminati ketimbang Aqua dan Ades.

- Untuk menutupi rasa ketidakpercayaan diri, Anxious perlu lembaga-lembag yang nyata yang melakat pada dirinya antara lain perhiasan dan kendaraan.

- Indikasi lain dapat dilihat dari penggunaan ATM oleh golongan ini menunjukkan angka paling kecil 9,31%, sementara segmen lainnya berkisar 10% - 18%. Penggunaan ATM yang bersifat pribadi dan tidak terikat dengan orang lain, membuat gengsi ATM di mata anxious relatif tidak begitu tinggi.

- Lain halnya dengan kartu kredit yang penggunaannya berhubungan dengan orang lain, minimal wiraniaga, persentase anxious hampir sama dengan affluent yang cendrung senang tampil dan menjadi pusat perhatian.

- Anxious kurang perhatian terhadap barang-barang atau produk sekali pakai buang.

- Mereka lebih meilih masakan Padang ketimbang Fast Food. Anxious cenderung sederhana dalam mengkomsumsi makanan-minuman ataupun melakukannya. Segmen ini kurang begitu berminat makan diluar rumah dibandingkan segmen lain.

- Begitu pula berbelanja, mereka lebih suka di pasr tradisional, ini bisa jadi karena kemampuan ekonomi mereka masih terbatas.

- Anxious menyukai variasi dan inovasi, mereka menyukai barang berteknologi tinggi, seperti komputer, perangkat audio-visual dan handphone, malah dalam kelompok ini persentasenya tertinggi 13,93%.
Barang berteknologi tinggi ini tampaknya digunakan anxious sebagai pendukung untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Menawarkan produk/jasa yang dapat meningkatkan gengsi dan percaya diri kepada anxious barangkali merupakan peluang bisnis yang cukup terbuka.

Jumat, 13 November 2009

Loner

- Si penyendiri, barangkali itulah sebutan yang paling pas untuk golongan ini. Merekaini tipe orangnya tak ingin menonjol, namun achievement oriented. Maka boleh jadi di segmen ini terdapat kalangan kelas atas namun bukan kalangan public figur.Orang mungkin lebih menegnal kelompok ini dari jabatannya, misalnya dibandingkan kegiatannya diluar seperti hobinya atau organisasinya. Kelompok ini memang bentuk-bentuk pribadi yang tidak suka berkumpul dan berhura-hura.

- Hanya dari 14,90% dari kelompok ini yang mengaku suka berkumpul dengan teman-teman atau hura-hura. Sebanyak 45,20% lebih suka berkumpul dengan keluarga, dan 31,30% memirsa video/TV di rumah untuk mengisi waktu luang. LOner juga punya kebiasaan belanja yang unik. Cuma 8,90% kaum loner yang dalam seminggu sekali ke pusat perbelanjaan angka ini paling rendah dibandingkan segmen lainnya.

_ Loner paling banyak cuma 1-2 kali sebulan berkunjung ke mall 39,40%, angka inipun masih paling rendah ketimbang kebiasaan segmen lain. Namun untuk kunjungan ke pasar swalayan relatif tinggi 47,40% kelompok ini mengaku 1-2 kali berbelanja di atas.

- Selain itu, loner lebih senang bila tidak tergantung orang lain dan menikmati kesendirian, mereka akan puas bila menentukan apa yang akan mereka lakukan misalnya dalm menjalankan hobi tak harus menunggu bersama-sama teman yang lain.

- Segmen ini juga ditandai dengan pribadi-pribadi yang berorientasi pada prestasi, selain itu loner biasanya memilih sesuatu berdasarkan pertimbangan rasional.

- Pribadi ini juga ditandai dengan karakter pribadi yang self orientend, atau melakukan sesuatu dengan motif internal. Loner terkadang juga tampak masa bodoh, cuek dan kurang peduli dengan sekeliling misalnya dalam hal berbusana walau tak suka tampilan yang wah, loner sering tampil unik sesuai dengan keinginannya tanpa mempedulikan pendapat orang lain tentang dirinya.

- Gaya pemasaran yang tepat untuk mendekati loner adalah pendekatan personal yang bisa langsung menyentuh kepentingan pribadinya. Kaum ini biasanya lebih melihat manfaat produk ketimbang atributnya, Karena mereka selalu mempertimbangkan segala sesuatu secara rasional dan melihat value of money.

Achiever

- Para achiever tergolong berpretasi tinggi, mereka adalah pekerja keras yang sangat berorientasi ke pencapaian (achiever oriented).

- Rasa percaya diri yang tinggi, membuat mereka menyukai tantangan.

_ Meski begitu mereka adalah pencinta keteraturan dan cenderung bertindak berdasarkan sistem.

- Sikapnya yang merendah hati (low profilr) dan tidak suka menonjolkan diri membuat pergaulan mereka luas. (The young intellectual yang rendah dan disukai dalam pergaulan)

- Rasa setia kawan mereka patut mendapat acungan jempol.

- Kelompok ini sebagian besar berusia muda dan berpendidikan tinggi.

- Prestasi tinggi diimbangi dengan penampilan yang rendah hati, membuat para achiever menjadi pemimpin yang berwibawa dan mandiri.

- Mereka tidak mudah menerima hal-hal baru, lebih-lebih bila landasan argumennya kurang kuat.

_ Para achievers dalam memutuskan segala tindakannya berdasrkan pertimbangan rasional, dalam memilih produk umpamanya mereka cenderung lebih mengutamakan fungsi ketimbang mode dan merek.

- Para achiever banyak bergaul dengan teknologi tinggi, akrab dengan telepon genggam sebagai alat bantu kerja dan meraih prestasi.

- Mereka juga paling gemar menggunakan perangkat piringan laser. Namum dari 8 segmen yang ada, kelompok inilah yang paling sedikit memakai prangkat audio-visual (9,34%) dibanding dengan kelompok attention seeker yang mencapai 14,60%.

- Keprktisan seringkali menjadi alasan pemilihan suatu produk bagi achiever. (Umpamanya dalam memilih produk kopi diantara kelompok lainnya achiever paling suka indocafe 19,14% dan Nescafe 14,16%. Kedua merek kopi instant ini memang lebih mudah larut bila diseduh dibandingkan merek-merek lainnya. Jika harus memilih antara susu bubuk instant dan susu bubuk biasa mereka juga akan memilih susu bubuk instant. Padahal beberapa di antara mereka menyatakan sebeanrnya susu bubuk instant kuang gurih dan terlalu manis dibandingkan dengan susu bubuk biasa).

- Kerapian menjadi perhatian utama bagi achiever dalam memilih busana.

- Ketakacuhan mereka terhadap gengsi terlihat dari merek mobil yang dipilih, Toyota 48,20%, suzuki 32,80% dan daihatsu 25,10%. Hanya 1,20% yang memilih Mercedes Benz. Kerendahan hati ini semakin mencolok jika kita membandingkan pilihan ini dengan segmen-segmen lainnya.

- Bagi achiever cara terbaik menjaga kesehatan adalah dengan berolahraga, mengatur makan dan istirahat teratur. Mereka paling tidak percayya obat-obatan tradisional.

- Media expose achiever juga tergolong tinggi, koran, majalah, tabloid, televisi, radio semua dilahapnya, bahkan mereka juga cenderung mengisi waktu luang dengan membaca koran atau majalah, meski juga gemar memirsa TV dan mendengarkan musik. Sedangkan waktu luang diakhir pekan biasanya dihabiskan dengan berkumpul bersama teman.

- Minuman ringan yang paling mereka suka adalah green sands 19,62%, selain kandungan alkoholnya rendah, positioning Green Sands yang diiklankan dengan thema Rasa Berani memeang pas dengan ciri-ciri achiever yang gemar tantangan.

- Untuk menghadapi orang-orang achiever, yang perlu diingat oleh produsen adalah mereka tak akan mudah dibujuk lewat promosi, iming=iming, hadiah, ataupun gengsi. Dengan mengetahui karakteristik, produsen bisa menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka yakni produk yang menonjolkan fungsi, kualitas, manfaat, (benefit) serta harganya sesuai dengan manfaat yang didapat. Program-program periklanannya pun harus menggunakanrasional yang masuk akal sehingga bisa mereka terima.

Kamis, 12 November 2009

Affluent

- Achievement oriented, pekerja keras yang aktif atau workaholic
- Sebagai pekerja keras, kaum affluent ini dinamis dan memilikimobilitas tinggi
- Mereka juga teleti, sistematis dan rasional.
- Kaum affluent juga digambarkan berani mengambil resiko untuk mencapai cita-citanya
- Ciri lain adalah rasa percaya yang tinggi serta supel
- Senang untuk tampil dan menjadi pusat perhatian, 53,4% diantaranya selalu ingin tampil rapi.
- Affluent juga digambarkan suka mengikuti perkembangan. (itu sebabnya mereka sering berkunjung ke pusat perbelanjaan, untuk mengikuti perkembangan mode atau sekedar mengikuti trend anak muda. Sebanyak 18,17% dari kelompok ini mengaku mengunjungi pusat perbelanjaan setiap minggu dan ini angka yang paling tinggi dibandingkan segmen yang lain).
- Mereka meras perlu selalu well informed. (Sebanyak 94,60% dari kelompok ini membaca koran setiap hari, 77,30% baca majalah, 83,19% menyempatkan mendengarkan radio ketika di dalam mobil, dan hanya 6,80% mengikuti gosip dari tabloid).
- Kaum affluent tidak sekedar mencari informasi untuk kepentingan bisnisnya, tetapi juga mengetahui kondisi makro. (Porsi berita utama di berbagai media selalu di baca oleh 33,8% kelompok ini, sedangkan berita ekonomi dibaca oleh 23,30%).
- Selain itu affluent juga menyukai inovasi dan sangat gampang menerima hal-hal yang baru.
- Pada umumnya orang-orang affluent pandai bicara dan menyakinkan orang untuk menyetujui pemikirannya.
- Segmen affluent, tergolong kelompok yang berdaya beli tinggi, mereka mengutamakan mutu, pelayanan, bonafiditas dan gengsi.
- Mereka umumnya tidak terlalu peka terhadap harga, tapi lebih memperhatikan mutu dan layanan prima. Jadi untuk melayani konsumen golongan ini harus punya customer satisfication (CS) yang bagus. Dan tentu saja mereka adalah sasaran yang tepat untuk berbagai produk ekslusif yang berkelas.

Artikel Terpopuler